Assalamualaikum Wr. Wb

Minggu, 26 Juni 2011

Cahaya Dari Kebenaran

Apakah hidup itu? Keberadaan manusia di dunia ini dan penciptaan seluruh alam semesta ini tidak hanya kecelakaan atau produk yang bersifat kebetulan. 


Alam semesta ini, setiap atom tunggal itu, manifes dan membawa kita pada realisasi dari Pencipta Mencintai, Penyayang dan Maha Kuasa. Tanpa Pencipta, tidak bisa eksis. Setiap jiwa tunggal tahu bahwa ia ada dan bahwa keberadaannya bergantung pada Pencipta ia yakin bahwa ia tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. 

Oleh karena itu adalah tugasnya untuk mengetahui tuannya, Sang Pencipta. 



Manusia: Manusia adalah makhluk yang unik. Tuhan memberikan manusia kemampuan untuk memerintah atas semua makhluk lain di dunia ini. Dia diberkahi dengan fakultas alasan yang menetapkan dirinya terpisah dari semua hewan lain. Bersama dengan fakultas untuk membedakan dan membedakan, manusia diberikan kebebasan (kehendak bebas) untuk memilih sendiri cara hidup layak posisinya atau jatuh lebih rendah dari yang terendah dari semua hewan atau kreasi. Manusia dilahirkan tanpa dosa dan murni dan diberikan pilihan untuk melakukan perbuatan benar atau memanjakan diri dalam dosa. 



Bimbingan Ilahi: Sang Pencipta, dari Cinta melimpah-Nya dan rahmat bagi umat manusia tidak meninggalkan kita dalam kegelapan untuk menemukan jalan yang benar oleh trial and error saja. Ditambah dengan kemampuan intelektual kita untuk berpikir sehat, Pencipta kita diberikan kepada kita Bimbingan Ilahi yang mencantumkan kriteria untuk kebenaran, pengetahuan, serta realitas keberadaan kita di dunia ini dan di akhirat. 



Wahyu: Dari awal manusia, Pencipta kita mengutus nabi untuk menyampaikan wahyu-Nya dan mengajak manusia ke jalan perdamaian sejati dan ketaatan kepada Satu Tuhan. Ini adalah Islam. Pesan ini disampaikan kepada generasi-generasi manusia melalui para nabi yang berbeda, semua umat manusia mengundang ke jalan yang sama. 



Namun semua pesan lebih awal atau wahyu dari Allah yang terdistorsi oleh orang-orang dari generasi berikutnya. Sebagai hasil dari distorsi ini, Wahyu murni dari Pencipta kita itu dicampur dan tercemar dengan mitos, takhayul, penyembahan berhala dan ideologi filsafat rasional. Agama Allah dalam arti hilang dalam kebanyakan agama. Sejarah manusia merupakan bukti dari penyimpangan manusia antara terang dan kegelapan, tetapi Allah karena kasih-Nya berlimpah bagi umat manusia yang tidak meninggalkan kita. 



Akhir Wahyu: Ketika manusia berada di kedalaman Abad Kegelapan, Pencipta kita mengutus Rasul-Nya yang terakhir, Nabi Muhammad (sallallahu 'alaihi wa sallam) untuk menebus umat manusia dengan wahyu terakhir yang merupakan sumber utama bimbingan dan permanen untuk seluruh dunia . Kriteria Untuk Kebenaran: Kriteria berikut dapat melayani sebagai alat ukur untuk mengetahui keaslian wahyu terakhir (Al-Qur'an) sebagai Firman Allah: Ajaran Rasional: Karena Pencipta kita diberikan akal dan kecerdasan kepada kita, itu kita kewajiban untuk menggunakannya untuk membedakan kebenaran dari kepalsuan. 



Benar, tidak terdistorsi wahyu dari Allah harus rasional dan dapat beralasan oleh semua pikiran bias. Kesempurnaan: Karena Pencipta kita semua sempurna, wahyu-Nya harus sempurna dan akurat, bebas dari kesalahan, kelalaian, interpolasi dan keragaman versi. Ini harus bebas dari kontradiksi dalam riwayat-nya. Tidak Mitos atau Takhayul: wahyu sejati adalah bebas dari mitos atau takhayul yang menurunkan martabat Sang Pencipta kita atau manusia itu sendiri. 



Ilmiah: Karena Pencipta kita adalah Pencipta dari segala pengetahuan, wahyu yang benar adalah ilmiah dan dapat menahan tantangan ilmu pengetahuan di setiap saat. Nubuat faktual: Pencipta kita adalah Maha Mengetahui masa lalu, sekarang dan masa depan. Dengan demikian nubuat-Nya dalam wahyu-Nya akan digenapi sebagai dinubuatkan. Manusia tak ada bandingannya Oleh: wahyu sejati adalah maksum dan tidak dapat ditiru oleh manusia. Wahyu Allah yang benar adalah keajaiban hidup, sebuah buku terbuka menantang seluruh umat manusia untuk melihat dan membuktikan sendiri keaslian atau kebenaran 



Sumber: http://www.islamaware.com/article.aspx?c=Questions&num=184

Jumat, 10 Juni 2011

KONSEP TASAWUF MENURUT KACAMATA AHLI SUFI


 Oleh: Dr. Abdul Manam bin Mohamad al-Merbawi**
Universiti Darul Iman Malaysia

Pendahuluan

Tasawuf merupakan satu cabang ilmu keislaman yang sudah diakui kebenarannya. Dari segi penamaan, ia ternyata baru muncul dalam dunia Islam. Namun hakikatnya tasawuf itu sudahpun wujud di zaman Nabi s.a.w. dan lebih dikenali dengan nama ilmu ihsan, ilmu nafi`, ilmu batin atau ilmu di dalam hati (fi al-qalb). Nama tasawuf hanya mula muncul di zaman pengkelasan ilmu. Ilmu ini semakin hari semakin dipinggirkan, bahkan ia merupakan ilmu yang mula-mula akan pupus dari jiwa manusia. Mengenai ilmu ini `Ubadah bin Samit menjelaskan “sekiranya engkau ingin tahu, akan aku khabarkan kepadamu ilmu yang mula-mula diangkat dari manusia, iaitu al-khusyu`”. Tulisan ini akan menjelaskan mengenai ilmu tasawuf tersebut dengan memberikan tumpuan kepada konsep dan kedudukannya dalam Islam, cara mencapainya dan juga peranannya.

Beberapa Tanggapan Yang Kurang Tepat Mengenai Tasawuf

Tasawuf seringkali disalahfahami dan dijelaskan secara yang mengelirukan. Gambaran-gambaran yang diberikan terhadap tasawuf adakalanya bersifat menakutkan, sukar atau mustahil dicapai atau menyentuh sudut-sudut tertentu tasawuf itu. Hal ini selalunya terjadi apabila tasawuf itu dihuraikan oleh orang yang tidak berkeahlian serta tidak memiliki pengetahuan yang mencukupi mengenainya, atau orang yang sememangnya tidak menyukai tasawuf, atau mereka yang terpengaruh dengan ulasan-ulasan yang diberikan oleh pengkaji-pengkaji tasawuf semata-mata tanpa menyelami dan menghayatinya dari kalangan orang-orang Islam itu sendiri atau orientalis barat.


Antara gambaran yang selalu diberikan kepada tasawuf ialah semata-mata kemuliaan akhlak, tiada yang lain dari itu. Penelitian terhadap definisi tasawuf yang diberikan oleh para ulama mendapati bahawa di antara definisi itu ada yang menyentuh kemuliaan akhlak, namun tokoh yang sama juga ada memberikan definisi lain yang menyentuh sudut yang lain pula. Hal seperti ini selalu terjadi dalam tasawuf dan ini berdasarkan kepada kaedah yang diketahui umum di kalangan ahli tasawuf iaitu sesuatu jawaban itu adalah berdasarkan kepada situasi orang yang bertanya. Mengaitkan tasawuf dengan akhlak adalah betul, kerana tasawuf itu tidak dapat dipisahkan dari akhlak di mana ia merupakan buah atau hasilnya, tetapi menggambarkan tasawuf sebagai semata-mata akhlak adalah tidak tepat. Ini kerana kedapatan dari kalangan ahli falsafah yang menjuarai, membela dan memperjuangkan akhlak ini, namun mereka buka ahli sufi. Begitu juga ditemui orang-orang yang berakhlak mulia, tetapi mereka sendiri tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Tasawuf juga selalu dikaitkan dengan kezuhudan yang merujuk kepada makna ketiadaan pemilikan atau membuang, menolak serta menjauhkan diri dari perkara-perkara keduniaan. Gambaran itu ternyata tidak tepat, meskipun ditemui definisi yang diberikan oleh sebahagian ulama tasawuf yang menyentuh sudut kezuhudan ini. Ternyata bahawa kezuhudan sebenar yang mereka maksudkan ialah kezuhudan jiwa. Ini kerana dari kalangan mereka ada yang merupakan golongan hartawan dan hidup kaya seperti Sayyiduna `Uthman ibn `Affan r.a. yang disifatkan oleh ahli tasawuf sebagai orang yang berada pada maqam tamkin. Kalaulah tasawuf itu memestikan seseorang itu membuang duniawi sehingga tidak memiliki apa-apa, bererti mereka itu tidak tergolong dalam golongan ahli tasawuf yang diakui. Adapun ahli tasawuf yang memilih hidup dalam suasana kezuhudan, mereka itu berbuat demikian kerana beberapa sebab, antaranya kerana mereka secara kebetulan merupakan orang-orang miskin, atau mereka sedang menjalani riyadah ruhaniyyah, atau kerana jiwa mereka sedang mengalami dhawq yang cenderung kepada gaya hidup zuhud.

Tasawuf juga selalu digambarkan sebagai peribadatan lahiriah, iaitu ahli tasawuf itu ialah orang yang menekuni ibadat khusus seperti solat, puasa, qiyam al-lail, zikir dan sebagainya, dan menghabiskan masa dengan ibadat itu sahaja tanpa memberikan tumpuan kepada perkara-perkara yang lain dari itu. Gambaran itu juga tidak tepat meskipun terdapat definisi tasawuf yang menyentuh sudut peribadatan ini. Sememangnya ahli tasawuf itu suka menekuni ibadat sebagai bukti pengabdian diri mereka terhadap Allah. Namun tidak semua dari kalangan ahli tasawuf itu yang kehidupan mereka bercorak peribadatan lahiriah semata-mata seperti yang terlihat pada gambaran kehidupan golongan `ubbad/nussak, bahkan ditemui dari kalangan ahli tasawuf itu yang selalu sibuk dengan pelbagai urusan kehidupan, seperti Sayyiduna Abu Bakr al-Siddiq r.a. yang disifatkan oleh ahli tasawuf sebagai orang yang terawal mengeluarkan ungkapan yang mengandungi isyarat sufi.

Selain itu tasawuf juga sering digambarkan sebagai kecenderungan dan usaha memperolehi kekeramatan yang merujuk kepada pengertian kejadian luar biasa. Menggambarkan tasawuf seperti ini ternyata tidak tepat dan mengelirukan sekalipun ia biasa terjadi di kalangan ahli tasawuf. Terjadi perkara-perkara yang menyalahi adat kebiasaan pada diri ahli tasawuf itu bukanlah satu kemestian bahkan perkara luar biasa juga boleh terjadi pada orang yang terlibat dengan kekufuran dan kesyirikan seperti pendita, petapa dan ahli sihir. Ahli tasawuf yang sebenar tidak memberikan tumpuan kepada perkara seperti itu, malah apa yang menjadi tumpuan mereka ialah kekeramatan ilmu, iman dan taqwa. Inilah pendirian para ulama tasawuf ternama seperti al-Qushayri, al-Tustari, al-Tusi, al-Shadhili, Ibn al-`Arabi dan lain-lain. Oleh itu memahami tasawuf sebagai usaha mencapai kejadian luar biasa adalah suatu kekeliruan.

Pengertian Tasawuf Menurut Ahlinya

Menggambarkan tasawuf dengan gambaran akhlak, kezuhudan, peribadatan dan kekeramatan lahiriah semata-mata seperti yang telah dijelaskan, ternyata tidak tepat dan tidak menggambarkan intipati serta gambaran menyeluruh tentang tasawuf itu. Pengertian sebenar tasawuf itu ialah pencapaian darjat ihsan yang digambarkan dalam hadis Nabi s.a.w. yang bermaksud
“ihsan itu ialah engkau beribadah kepada Allah seolah-olahnya engkau melihat-Nya, sekiranya engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau”
. Ternyata bahawa hakikat ihsan itu tercapai dengan dua perkara iaitu ibadah yang sempurna lagi berterusan dan kehadiran hati, kesedaran jiwa, serta penyaksian batin terhadap makna-makna ketuhanan (hakikat-hakikat tauhid) dalam ibadah tersebut. Penyaksian batin ini diistilahkan oleh ulama tasawuf sebagai muraqabah dan mushahadah dan ia mempunyai tingkatan-tingkatan yang tertentu. Pencapaian mushahadah inilah yang akan membuahkan berbagai ahwal dan maqamat dan dari sini jugalah timbulnya berbagai persoalan ilmu tasawuf.

Dengan kata lain, hakikat sebenar tasawuf itu ialah tercapainya kebersihan diri, zahir dan batin. Kebersihan zahir membawa maksud keterikatan anggota lahiriah manusia dengan peraturan atau hukum-hukum agama iaitu apa yang diistilahkan sebagai `ibadah. Kebersihan batin pula bermaksud kebersihan hati dari sifat-sifat tercela (takhalli) dan terhiasnya ia dengan sifat-sifat terpuji (tahalli) iaitu apa yang disebut sebagai `ubudiyyah. Manakala kemuncak kebersihan batin manusia itu ialah terbuangnya sesuatu yang lain dari Allah dari lubuk hati dan nyata kebenaran Allah di cermin hati itu (tajalli) iaitu apa yang dinamakan `ubudah. Kebersihan batin inilah yang membawa kepada tercapainya darjat ihsan seperti yang digambarkan dalam hadis.

Pengertian tasawuf seperti inilah yang dapat dilihat pada definisi yang diberikan oleh Shaykh `Abd al-Qadir al-Jilani. Menurut beliau, tasawuf itu ialah pembersihan hati (tasfiyah) dari sesuatu yang lain dari Allah. Menurut beliau, tasawuf itu diambil dari perkataan safa (musafat) iaitu bermaksud orang yang Allah bersihkan batinnya. Pengertian ini jugalah yang ditemui pada definisi tasawuf yang dikemukakan oleh Shaykh Abu Bakr al-Kattani. Menurut beliau, tasawuf itu ialah kejernihan hati (safa’) dan penyaksian batin (mushahadah). Shaykh Ahmad Zaruq pula menjelaskan bahawa tasawuf telah dihurai, ditafsir dan didefinisikan sejumlah hampir dua ribu, semua itu terhimpun pada satu pengertian sahaja iaitu benarnya tawajjuh hati kepada Allah. Permulaan tawajjuh hati itu ialah terhasilnya intibah (kesedaran jiwa) yang membawa kepada taubah yang benar. Pertengahannya ialah merasai ahwal dan mencapai maqamat. Kesudahannya pula ialah tertumpu pandangan hati hanya kepada Allah semata-mata, tidak kepada yang lain dari-Nya. Di sinilah terhasilnya mushahadah dan inilah kemuncak ihsan.

Kedudukan Tasawuf Dalam Islam

Tasawuf adalah maqam ihsan. Ia merupakan sebahagian dari tiga bahagian utama agama iaitu islam, iman dan ihsan. Ketiga-tiga rukun agama ini dapat dilihat dengan jelas dalam hadis Jibril a.s. Ketika Jibril a.s. datang menemui Nabi s.a.w. dalam rupa seseorang yang tidak pernah dikenali oleh para sahabat, beliau telah mengemukakan beberapa pertanyaan mengenai Iman, Islam dan Ihsan. Pertanyaan itu sebenarnya merupakan suatu perkhabaran iaitu bertujuan mengkhabarkan kepada umat tentang rukun-rukun agama. Perkara ini dapat dilihat di mana Nabi s.a.w. menjelaskan bahawa
“ Dialah Jibril yang datang kepada kamu untuk mengajarkan kepada kamu tentang agama kamu”.

Dari penjelasan Nabi s.a.w. terhadap pertanyaan Jibril jelas menunjukkan bahawa Islam itu merujuk kepada amalan lahiriah iaitu perlaksanaan terhadap perintah-perintah agama yang berpaksi pada lima rukun utamanya iaitu shahadah, solat, puasa, zakat dan haji. Iman pula merujuk kepada keyakinan hati terhadap rukun-rukun iman yang berpaksi pada enam rukun utamanya itu kepercayaan kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhirat dan qada’ serta qadar. Manakala ihsan pula merujuk kepada amalan batin manusia iaitu penyaksiaan hati terhadap hadrat ilahi. Oleh itu islam melibatkan anggota lahiriah manusia, iman pula melibatkan anggota dalaman manusia iaitu hati, manakala ihsan pula merupakan gerak jiwa manusia.

Iman itu boleh diumpamakan sebagai tapak binaan, islam itu sebagai binaan asas, dan ihsan itu pula ialah pelengkap, penyempurna dan penyeri binaan. Tanpa iman, binaan tidak akan terbina kerana ketiadaan tapak. Tanpa islam, bererti hanya memiliki tapak tanpa ada binaan. Tanpa ihsan, bererti hanya memiliki tapak dan binaan asas tanpa pelengkap dan penghiasnya. Kesempurnaan hanya tercapai dengan ketiga-tiga perkara itu. Memiliki tapak semata-mata tanpa ada bangunan menjadikan seseorang itu merasai keperitan kepanasan matahari dan kesejukan hujan. Demikian juga orang yang hanya beriman tanpa melaksanakan tuntutan islam akan diazab di akhirat sekiranya dosa-dosanya itu tidak diampunkan Allah, namun kesudahannya dia tetap ke syurga juga kerana keimanannya itu. Memiliki tapak dan binaan asas pula menjadikan seseorang itu dapat berteduh namun tempat berteduhnya itu tidak sempurna kerana tidak memiliki kelengkapan dan hiasan, malahan seringkali terdedah kepada kecurian. Demikian juga orang yang beriman dan melaksanakan tuntutan islam tetapi tidak berihsan, amalan yang dilakukan itu kurang sempurna malahan kadang-kadang amalan tersebut tidak diterima dan mengundang kemurkaan Allah. Perkara seumpama inilah yang dapat dilihat pada firman Allah yang bermaksud “celakalah bagi orang yang bersolat”.

Tasawuf sebenarnya merupakan saripati atau jiwa agama. Dengannya agama itu dapat dirasai kebenaran dan kemurniannya. Ia merupakan penyempurna kepada agama itu sendiri di mana ia memberikan nilaian tambahan terhadap keimanan dan keislaman. Dalam hal ini Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud “iman yang paling utama ialah bahawa engkau mengetahui bahawa Allah itu menyaksikan engkau di mana sahaja engkau berada”. Hadis ini menunjukkan bahawa iman itu mempunyai tingkatan yang berbeza, dan tingkatan iman yang paling utama ialah iman yang didasari atas pengetahuan dan penyaksian terhadap hakikat tilikan Allah serta taklukan sifat-sifat-Nya terhadap diri manusia. Inilah yang dikatakan ihsan seperti yang disabdakan oleh Nabi s.a.w. yang bermaksud “ihsan itu ialah engkau beribadah kepada Allah seolah-olahnya engkau melihat-Nya, sekiranya engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihat engkau”.

Cara Mencapai Tasawuf

Menurut Imam al-Ghazali, setiap maqam agama itu seperti taubat, sabar, syukur, reda, tawakkal dan sebagainya, adalah terdiri dari tiga perkara iaitu ilmu, amal dan hal (nur). Dengan ketiga-tiga perkara inilah tercapainya kesempurnaan maqam agama itu. Hal atau nur inilah merupakan intipati ilmu tasawuf. Ilmu diperolehi menerusi pengkajian dan pembelajaran dan ilmu itu pula menghendaki pengamalan. Amal yang jujur, bersungguh-sungguh, istiqamah dan berdasarkan ilmu itulah yang akan membuahkan hal. Oleh itu tasawuf dicapai menerusi ilmu dan amal. Perkara ini dapat dilihat pertunjuknya dalam banyak ayat-ayat al-Qur’an, antaranya ialah firman Allah yang bermaksud “dan orang-orang yang bermujahadah pada jalan Kami (Allah), pasti Kami (Allah) akan tunjukkan (hidayat) kepada mereka jalan-jalan Kami (Allah)”, firman Allah yang bermaksud “wahai orang-orang yang beriman, sekiranya kamu bertaqwa kepada Allah, nescaya Dia (Allah) akan menjadikan untuk kamu pemisah (furqan iaitu nur yang memisahkan antara haq dan batil)”, dan ayat-ayat lain lagi.

Adapun amal yang menghasilkan tasawuf itu ialah amal yang berfungsi membersih dan mentawajjuhkan hati kepada Allah iaitu apa yang diistilahkan sebagai mujahadah dan riyadah. Amalan, tata-cara, adab-adab serta tunjuk-ajar dalam melaksanakan mujahadah dan riyadah inilah yang dinamakan tarekat. Mengenai amal tarekat ini, ulama tasawuf menjelaskan bahawa tarekat itu ialah engkau mengqasadkan hatimu kepada-Nya. Iaitu bermaksud, tarekat itu ialah berusaha sedaya upaya mentawajjuh dan menumpukan tumpuan hati kepada Allah menerusi amalan yang dilaksanakan. Apabila tawajjuh hati mula dicapai dan dirasai serta menjadi semakin kuat dan teguh, ia akan membawa kepada penyaksian batin (mushahadah) terhadap hakikat-hakikat tauhid iaitu apa yang disebut hakikat. Mengenai hakikat ini ulama tasawuf menjelaskan bahawa hakikat itu ialah engkau menyaksikan-Nya.

Intipati dari semua amal mujahadah dan riyadah yang membawa kepada tercapainya tasawuf itu ialah zikir. Menurut Ibn Qayyim, semua amal itu disyariatkan adalah untuk melaksanakan dhikrullah, iaitu apa yang dimaksudkan dengan amal-amal itu ialah dhikrullah. Menurut beliau lagi, tidak ada jalan untuk mendapatkan ahwal dan ma`rifah itu kecuali menerusi zikir. Zikir sebagai amal penting dalam riyadah dan mujahadah ini dapat dilihat kebenarannya dalam banyak pertunjuk Nabi s.a.w. kepada para sahabat r.a. Dalam satu riwayat, Nabi s.a.w. ada menganjurkan para sahabat supaya memperbaharui iman. Mereka bertanya tentang cara bagaimana iman itu dapat diperbaharui. Nabi s.a.w. menjelaskan dengan sabda baginda yang bermaksud “perbanyakkan menyebut La ilaha illallah”. Memperbaharui iman itu bukan bermaksud menambah kepercayaan-kepercayaan baru, tetapi bermaksud memperteguh, memperdalam dan memperhalusi keyakinan sehingga hakikat-hakikat tauhid yang diimani dapat disaksikan kebenarannya oleh matahati. Caranya ialah selalu mengulangi kalimat tauhid sehingga ia tertanam teguh dalam hati sanubari.

Dalam riwayat yang lain, Nabi s.a.w. pernah mentalqinkan kalimat tauhid ini kepada sekumpulan sahabat. Shaddad ibn Aus meriwayatkan bahawa kami berada di sisi Nabi s.a.w. ketika baginda bersabda “angkatkan tangan-tangan kamu, lalu katakanlah La ilaha illallah”.

Kesan-Kesan Tasawuf

Tasawuf selalu dilihat sebagai sesuatu yang bersifat peribadi. Memang benar tasawuf itu bersifat peribadi kalau ia dilihat dari segi intipati atau hakikat tasawuf itu. Namun tasawuf itu mempunyai kaitan rapat dengan perkara-perkara lain yang tidak dapat dipisahkan dan mempunyai natijah serta kesan yang tertentu hasil dari pencapaiannya. Secara umumnya, pencapaian tasawuf itu akan mewujudkan, memperteguhkan dan mengharmonikan dua bentuk hubungan iaitu hubungan dengan Allah sebagai pencipta dan pentadbir alam ini dan hubungan dengan manusia sebagai penghuni dan pemakmur dunia ini.

Hakikat ini dapat diperhatikan kenyataannya dalam satu riwayat di mana Nabi s.a.w. pernah ditanya oleh para sahabat mengenai orang yang paling afdal dan tinggi darjatnya di sisi Allah pada hari kiamat. Nabi s.a.w. menjawab “iaitu orang-orang yang banyak zikirnya terhadap Allah”. Ternyata bahawa zikir yang merupakan kekunci penting dalam usaha mencapai tasawuf itu menjadi ciri utama bagi orang yang dikira sebagai paling utama dan tinggi darjatnya di sisi Allah pada hari kiamat. Dengan tercapainya tasawuf itu akan membuahkan berbagai ahwal, maqamat dan amalan yang dengannya seseorang itu mendapat kemuliaan dan mencapai ketinggian darjat di dunia dan juga di sisi Allah. Antara kesan-kesan tasawuf itu ialah:

1-Memperteguhkan keimanan dan membina jatidiri muslim.

Tasawuf berfungsi memperteguhkan keimanan dan keyakinan serta menetapkan pendirian seseorang muslim. Apabila batin manusia bersih dari kekotoran sifat-sifat yang tercela dan dari kecintaan terhadap sesuatu yang lain dari Allah, akan terpancarlah (tajalli) cahaya kebenaran ilahi di dalam hati. Kesannya manusia dapat menyaksikan hakikat kebenaran Allah dan kepalsuan sesuatu yang lain dari-Nya dengan terang dan nyata. Inilah nur yang disebut dalam firman Allah yang bermaksud “maka sesiapa yang dilapangkan Allah dadanya untuk Islam, maka dia itulah orang yang berada di atas cahaya (nur) dari Tuhannya”. Mengenai nur ini Nabi s.a.w. menjelaskan “bahawa nur itu, apabila memasuki hati, ia akan menjadi luas dan lapang (terbuka hijab)”. Iaitu hati yang terhijab dengan pelbagai hijab rohani sehingga ia terhalang dari menyaksikan kebenaran Allah, apabila ia disinari dengan nur ilahi, akan tersingkaplah hijab-hijab tersebut lalu ia dapat menyaksikan kebenaran ilahi.

Nur tersebut membawa kepada peningkatan darjat keimanan dan keyakinan hati serta memperteguhkan pendirian. Dalam keadaan ini, hati manusia tidak lagi dipengaruhi oleh sebab musabab, tidak merasa bimbang dan takut terhadapnya serta tidak lagi meletakkan pergantungan hati terhadapnya. Dia tidak merasa gelisah terhadap sumber-sumber rezeki, persoalan hidup atau mati, susah atau senang, kaya atau miskin, untung atau rugi, dapat atau tidak, menang atau kalah dan sebagainya lagi. Ini kerana hatinya telah menyaksikan dengan terang dan nyata kebenaran kewujudan Allah dan adanya ketentuan (qada’ dan qadar) dari-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Dia berkeyakinan penuh bahawa tidak akan terjadi sesuatu itu kecuali dengan kekuasaan, kehendak, ketentuan dan keizinan dari-Nya. Inilah kewalian yang sebenar-benarnya seperti yang digambarkan dalam firman Allah yang bermaksud “ketahuilah bahawa wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan ke atas mereka dan mereka itu tidak berduka cita”.

Inilah tingkatan iman yang utama iaitu iman yang didasari penyaksian batin terhadap kebenaran ketuhanan Allah. Mengenai perkara ini Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud “iman yang paling afdal ialah bahawa engkau mengetahui (dengan yakin) bahawa Allah menyaksikan dirimu di mana saja engkau berada”. Di sinilah letaknya jati diri seseorang mukmin. Allah memperteguhkan orang mukmin itu dengan keyakinan ini. Dalam al-Qur’an dijelaskan bahawa “Allah memperteguhkan orang-orang yang beriman dengan kata-kata yang teguh”. Menurut ahli tafsir, kata-kata yang teguh itu ialah kalimat tauhid (La ilaha illallah), iaitu kalimat iman dan taqwa.

2-Menimbulkan kesedaran jiwa

Intipati tasawuf itu ialah benarnya tawajjuh hati ke hadrat ilahi. Permulaan tawajjuh hati itu ialah timbulnya kesedaran jiwa (intibah). Seseorang yang mengalami intibah itu akan menyedari kelemahan, kekurangan dan kesilapan dirinya. Kesedaran inilah yang akan membawa kepada taubat dan usaha memperbaiki dan menyempurnakan diri. Kesedaran ini jugalah yang membangkitkan usaha gigih dalam meningkatkan dan memartabatkan diri. Isyarat ini dapat dilihat dalam al-Qur’an di mana Allah berfirman yang bermaksud “dan orang-orang yang apabila mereka melakukan perkara keji atau menzalimi diri mereka sendiri lalu mereka mengingati Allah, lantas mereka beristighfar terhadap dosa-dosa mereka, dan tiadalah yang mengampunkan dosa-dosa itu melainkan Allah, dan mereka itu tidak berlarutan dalam melakukan apa yang telah mereka lakukan sedangkan mereka mengetahuinya”.

3-Membina keperibadian dan akhlak mulia.

Tasawuf itu dari satu sudut ialah pencapaian akhlak mulia. Akhlak tidak dapat dipisahkan dari tasawuf di mana akhlak itu adalah merupakan buah atau hasil dari tasawuf. Pencapaian tasawuf membawa kepada pembentukan akhlak mulia. Mengenai akhlak ini, Abu Bakr al-Kattani menjelaskan bahawa “tasawuf itu ialah akhlak, sesiapa yang menambahkan akhlakmu, maka sesungguhnya dia telah menambahkan kesufianmu”. Hakikat ini sesuai dengan hadis Nabi s.a.w. yang bermaksud “orang-orang mukmin yang paling sempurna iman ialah mereka yang paling baik akhlak”

Apabila seseorang itu mula merasai hakikat tasawuf dengan sendirinya dia akan berakhlak mulia, kerana pencapaian hakikat tasawuf itu membawa kepada kelembutan hati. Kelembutan hati itulah yang melahirkan berbagai akhlak mulia. Oleh itu semakin tinggi tahap kesufian seseorang itu maka semakin mulia akhlaknya. Nabi s.a.w yang merupakan imam ahli tasawuf adalah diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia sebagaimana sabda baginda yang bermaksud “sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

4-Membentuk insan yang bertanggungjawab

Tasawuf itu dari satu dimensi ialah merasai hakikat iman dan mencapai martabat ihsan. Sekurang-kurang martabat ihsan itu ialah seseorang itu merasai dan menyedari bahawa dirinya sentiasa dalam tilikan dan pandangan Allah. Kesedaran inilah yang akan menjadikan seseorang itu merasa bertanggungjawab. Orang yang mengalami kesedaran ini akan merasai bahawa dirinya akan dipersoalkan di hadapan Allah mengenai tanggungjawabnya terhadap dirinya, keluarganya dan juga masyarakatnya. Mengenai perkara ini Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud “perumpamaan orang-orang yang beriman dalam perkara kasih sayang, rahmat merahmati, dan belas kasihan sesama mereka adalah seumpama satu tubuh, apabila satu anggota mengadu kesakitan maka seluruh anggota yang lain akan merasainya dengan tidak dapat tidur malam dan demam”.

Dalam satu riwayat, Nabi s.a.w. ada menjelaskan bahawa “iman itu ada lebih dari enam puluh tiga cabang, yang paling tinggi ialah ucapan La ilaha illallah, yang paling rendah ialah membuang sesuatu yang menyakiti di jalanan, dan sifat malu merupakan salah satu cabang iman”. Kemantapan dan kemurnian iman hasil dari pencapaian tasawuf akan menimbulkan rasa prihatin dan tanggungjawab terhadap orang lain. Timbulnya dorongan untuk tidak menyakitkan orang lain dan membuang sesuatu yang boleh menyakitkan mereka seperti yang disebut dalam hadis adalah merupakan hasil dari kemurnian jiwa atau tercapainya tasawuf.

5-Mewujudkan persaudaraan, perpaduan, dan sifat rahmat sesama manusia

Tasawuf itu dari satu sudut merupakan peningkatan tahap keimanan dan kesempurnaannya. Apabila tasawuf itu dicapai dan dirasai hakikatnya ia akan menimbulkan suatu keadaan kejiwaan di mana seseorang itu merasa kasih dan bertanggungjawab terhadap semua manusia dan juga makhluk-makhluk lain. Mengenai perkara ini Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud “tidak beriman seseorang kamu itu sehinggalah dia mengasihi untuk saudaranya apa yang dikasihinya untuk dirinya sendiri”. Demikian juga Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud “orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain adalah seumpama binaan di mana sebahagiannya memperteguhkan sebahagian yang lain”.

Penutup

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahawa tasawuf itu sebenarnya merupakan pencapaian martabat ihsan yang merupakan jiwa agama. Ia adalah satu dari tiga tunggak utama agama Islam. Pencapaian martabat ini bukan sahaja memperteguhkan hubungan seseorang itu dengan Tuhannya dalam bentuk peningkatan nilai keimanan, ibadah dan akhlak, malah juga hubungannya dengan sesama manusia dalam bentuk kewujudan rasa hormat menghormati, tanggungjawab dan keharmonian muamalah.

* Tajuk ini adalah salah satu tajuk kertas kerja yang pernah dibentangkan di Seminar Kebangsaan Kefahaman Taswwuf Nusantara anjuran Persatuan Pelajar Usuluddin UDM dengan kerjasama Majlis Agama Islam dan Adat Melayu Terengganu pada 13 Februari 2006. Ketua Pengarah seminar ini adalah saya sendiri. Sebarang persoalan sila hubungi saya.

** Merupakan salah seorang pensyarah saya di Universiti Darul Iman Malaysia dalam matapelajaran Tasawuf. Beliau juga adalah khalifah bagi tarikat Qadariyah Wal Nadsyabandiyah.

Sumber : Ustaz Buluh Iluvislam
http://jomfaham.blogspot.com/2009/04/konsep-tasawuf-menurut-kacamata-ahli.html

Jumat, 03 Juni 2011

ZIKIR DALAM THAREQAT

Pengertian Dzikir

Ayat-ayat al Qur’an dan hadits-hadits Nabi menyebut kata dzikir dalam beragam makna.
a.       Dzikir (dzikir) adalah al Qur’an, sebagaimana terekam dalam surat al Hijr ayat9
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.

b.       Dzikir adalah shalat jum’at, sebagaimana tertera dalam al Qur’an dalam surat al Jumu’ah ayat 9.
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kalian menuju dzkir kepada Allah.

c.        Dzikir diartikan sebagai ilmu, sebagaimana terekam dalam al Qur’an surat al Anbiya’ ayat 7.
Kami tiada mengutus Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.

Sebagian ahli tafsir berkata, “Yang dimaksud dzikir adalah ilmu tentang yang halal dan yang haram.”
Dzikir adalah lafal musytarak (memiliki lebih dari satu makna), mencakup ilmu, shalat, al Qur’an dan dzikir kepada Allah. Tetapi yang dijadikan sebagai patokan dalam lafal musytarak adalah makna yang paling banyak digunakan berdasarkan kebiasaan. Kebanyakan dalam teks al Qur’an dan Hadits, kata dzikir dimaksudkan sebagai tasbih, tahlil, takbir, dan shalawat kepada Nabi. Allah berfirman dalam surat an Nisa’ ayat 103, “Apabila kalian sudah menyelesaikan shalat, maka berdzikirlah kalian kepada Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.”
Sedangkan makna selain itu harus disertai dengan petunjuk keadaan atau lafal. Lafal dzikir paling banyak digunakan dalam arti dzikir kepada Allah. Jarang sekali lafal ini dimaksudkan sebagai ilmu sebagaimana dalam firman Allah, “Maka bertanyalah kepada ahli dzikir (orang-orang yang berilmu).” Maksud dari dzikir di sini adalah ilmu, karena adanya petunjuk, yaitu pertanyaan. (Abdul Qadir Isa, Hakikat Tasawuf)
Dzikir diartikan dengan tasbih, tahmid, tahlil, takbir salawat dan baca al Qur’an ialah seperti firman Allah dalam surat al Anfal ayat 45, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kalian dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya.” Dan firman Allah dalam surat al Muzammil ayat 8, “Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.”
Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, Allah telah berfirman, “Aku bersama hamba-Ku selama dia berdzikir kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ahmad, dan Hakim) dan hadits yang diriwayatkan dari Abdullah ibn Bisr bahwa seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syari’at-syari’at islam itu terlalu banyak bagiku. Maka beritahukanlah kepadaku sesuatu yang aku dapat berpegang teguh dengannya.” Beliau menjawab, “Selama lisanmu masih basah menyebut Allah.” (HR. Tirmidzi)
Menurut Ibnu Athaillah, “Dzikir adalah membebaskan diri dari sikap lalai dan lupa dengan menghadirkan hati secara terus-menerus bersama Allah. Sebagian kalangan mengatakan bahwa dzikir adalah menyebut secara berulang-ulang dengan hati dan lisan nama Allah, salah satu sifat-Nya, salah satu hukum-Nya, atau lainnya, yang dengannya seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
 Fungsi Dan Kedudukan Dzikir
Dzikir merupakan dasar untuk setiap maqam yang dibangun di atasnya, sebagaimana fondasi adalah landasan yang akan didirikan di atasnya serupa dinding, bangunan, dan atap. Dzikir membuahkan maqam-maqam dan ahwal yang diupayakan oleh para salik. Karena tidak ada jalan lain untuk meraih buah dzikir kecuali dari pohon dzikir. Setiap kali pohon itu tumbuh besar, maka akarnya akan semakin kuat dan buahnya akan semakin banyak.
Apabila seorang hamba asyik dan tenggelam dengan kelalaiannya, maka dia tidak mungkin dapat menempuh tingkat-tingkat perjalanan yang mengantarkannya untuk sampai kepada makrifatullah. Seseorang tidak akan terhindar dari kelalaiannya kecuali dengan dzikir. Lalai berarti tidur atau matinya hati. Ketaatan para sufi terhadap perintah Tuhan ialah mereka memperbanyak dzikir kepada-Nya, dzikir menjadikan kehidupan mereka seperti kehidupan para malaikat, sehingga dunia tidak pernah terlintas dalam hati mereka, dan tidak melupakan mereka dari berhubungan dengan kekasih mereka, yaitu Allah Swt. Bahkan mereka melupakan kepentingan diri dengan bersimpuh lama-lama di hadapan Tuhan mereka. Mereka melenyapkan segala sesuatu selain-Nya. Mereka selalu mengingat Allah di mana pun mereka berada dalam keadaan berdiri, berjalan, duduk, dan berbaring sebagaimana diungkapkan oleh Allah dalam surat Ali Imran ayat 191

Yang mengingat Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring, dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): “Hai Tuhan kami ! Engkau tidak jadikan ini (semua) tidak sia-sia ! Maha Suci Engkau ! Lantaran itu, peliharalah kami (dari pada) siksa neraka.

Seorang sufi senantiasa berzikir kepada Tuhannya di setiap situasi dan kondisinya. Dengan dzikir itu dadanya menjadi lapang, hatinya menjadi tenang dan rohnya menjadi luhur. Sebab, dia meraih keuntungan dengan menjadi teman duduk Tuhannya. Allah berfirman dalam hadits qudsi, “Ahli dzikir kepada-Ku adalah teman duduk-Ku (HR. Ahmad)”

Orang yang mengenal Allah adalah orang yang senantiasa tekun berzikir dan memalingkan hatinya dari kesenangan-kesenangan dunia yang fana, sehingga Allah menjaganya dan melindunginya dari semua urusannya. Hal ini tidak mengherankan. Sebab barang siapa bersabar, dia pasti akan berhasil. Dan barang siapa yang terus mengetuk pintu, maka pintu itu akan dibukakan baginya.
a.       Menurut Abu Qasim al Qusyairi
Imam Abu Qasim al Qusyairi mengatakan, “Dzikir adalah lembaran kekuasaan, cahaya penghubung, pencapaian kehendak, tanda awal perjalanan yang benar dan bukti akhir perjalanan menuju Allah. Tidak ada sesuatu setelah dzikir. Semua perangai yang terpuji merujuk kepada dzikir dan bersumber darinya.”
Dia juga berkata, “Dzikir adalah unsur penting dalam perjalanan menuju al Haq. Bahkan, dia adalah pemimpin dalam perjalanan tersebut. Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali dia tekun dalam berdzikir.”
b.       Menurut Ibnu Qayim al Jauziah
Ibnu Qayim berkata, “Tidak diragukan bahwa hati dapat berkarat seperti halnya besi dan perak. Dan alat pembersih hati adalah dzikir. Dzikir dapat membersihkannya, sehingga dia menjadi seperti cermin yang bersih. Apabila seseorang meninggalkan dzikir, maka hatinya akan berkarat. Dan apabila dia berzikir, maka hatinya menjadi bersih. Berkaratnya hati disebabkan dua perkara, yakni lalai dan dosa. Dan yang dapat membersihkannya juga dua perkara, yakni istigfar dan dzikir. Barang siapa yang lalai dalam kebanyakan waktunya, maka karat di hatinya akan menumpuk sesuai dengan tingkat kelalaiannya. Apabila hati berkarat, maka segala sesuatu tidak tergambar di dalamnya sesuai dengan faktanya. Dia akan melihat kebatilan dalam bentuk kebenaran, dan melihat kebenaran dalam bentuk kebatilan. Sebab, ketika karat hati itu bertumpuk, hati menjadi gelap, sehingga bentuk-bentuk kebenaran tidak tergambar sebagaimana adanya. Apabila karat hati bertumpuk, maka hati menjadi hitam dan pandangannya menjadi rusak, sehingga dia tidak dapat menerima kebenaran dan tidak dapat mengingkari kebatilan. Inilah siksaan hati yang paling berat. Sumber dari semua itu adalah kelalaian dan mengikuti hawa nafsu. Keduanya menghilangkan cahaya hati dan membutakannya. Allah berfirman dalam surat al Kahfi ayat 28 yang artinya : Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.
c.        Menurut Ahmad Zaruq
Dalam Qawa’id at Tasawwuf, Ahmad Zaruq mengatakan, “Keistimewaan itu terdapat dalam ucapan, perbuatan dan benda-benda. Dan keistimewaan yang paling agung adalah keistimewaan dzikir. Sebab, tidak ada amal anak Adam yang paling dapat menyelamatkannya dari siksa Allah selain dzikir kepada-Nya. Allah telah menjadikan segala sesuatu seperti minuman. Masing-masing memiliki manfaat khusus. Dengan demikian, setiap yang umum dan yang khusus harus diperhatikan sesuai dengan kondisi setiap orang.”
d.       Menurut Ahmad Ibn Ujaibah
Ahmad ibn Ujaibah berkata, “Tidak akan terbuka pintu maqam ridla bagi seorang hamba melainkan setelah dia mengerjakan tiga perkara pada fase awal perjalanannya, yaitu :
1)       Dia tenggelam dalam nama tunggal (Allah). Dzikir dengan nama tunggal ini hanya khusus bagi orang-orang yang telah mendapat izin dari seorang mursyid kamil.
2)       Dia bergaul dengan orang-orang yang berzikir
3)       Dia konsisten dalam mengerjakan amal saleh, dan bersih dari noda. Dengan kata lain, dia berpegang teguh pada syariat yang dibawa Nabi Muhammad Saw
           
Kesimpulannya, para pendidik spiritual dan para mursyid kamil telah menasihati para salik selama dalam perjalanan mereka menuju Allah dan telah menjelaskan kepada mereka bahwa jalan praktis yang dapat mengantarkan mereka untuk sampai kepada Allah dan mencapai ridla-Nya adalah memperbanyak dzikir di setiap keadaan dan bergaul dengan orang-orang yang berdzikir. Sebab, jiwa orang-orang yang berdzikir dapat memutuskan hawa nafsu yang senantiasa mengajak kepada kejahatan. (Abdul Qadir Isa, Hakikat Tasawuf, hlm. 98-100)

Rabu, 01 Juni 2011

DOA SEGALA HAJAT

Hedar Ali
hedarali53@ymail.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
مصحراة بي امره ـ ـ ـ ـ ـ ملها علي كل شىيء قدير

musahorotun bi amrihi………..malaha
a'la kulli syain qodiir.(di baca 3 x tahan nafas)


Azmi robbani amalan ini kami ikhlaskan kepada siapa yang mau mengamalkan sebab amalan ini tidak memakai puasa.
pada titik-titik di atas sebutkan hajat kita apa misalkan mempersatukan kembali rumah tangga yang pisahan.
dan titik-titik di niatkan umpama anda di mintai pertolongan sama seseorang umpama orang itu jauh/di luar kota anda ambil tanah di rumah anda kalau orang jawa bilang sebringkil taruh di dalam plastik dan taruh di saku celana/baju.sampai di tempat baca amalan di atas 3 x tahan nafas.
dan masih banyak lagi manfa,atnya yang penting setiap habis sholat fardhu selalu di amalkan biar tidak Ketul.
Kami sangat tidak ikhlas/Ridho ilmu ini Salah Gunakan!!!!!!
Gunakanlah untuk menolong orang lain dan yang membutuhkan pertolongan.

Kami mohon ma,af apabila ada kata-kata yang janggal/berkenan di hati para sesepuh blog K.W.A dan pro sedulur karena kami hanyalah manusia biasa yang penuh salah dan dosa.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
الفقير علم